=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000000000977 =005 20220428032032 =035 ##$$a 0010-1221000200 =245 1#$$a Peningkatan Penerapan K3 Menggunakan Metode Hirarc (Hazard Identification Rsk Assesment and Risk Control) pada PT. Papandayan Cocoa Industries Bandung : $b Tugas Akhir /$c Humairah Hafsari =100 1#$$a HUMAIRAH Hafsari =250 ##$$a 2019 =300 ##$$a xi, 54 halaman : $b Tabel, gambar ; $c 20x29 cm =856 ##$$a OPAC (Rak TA TIA 2019) =260 ##$$a Makassar :$b Politeknik ATI Makassar - Teknik Industri Agro,$c 2019 =082 ##$$a (R)2019 TA-TIA 818 =084 ##$$a (R)2019 TA-TIA 818 HUM p =650 #4$$a Tugas Akhir TIA 2019 =008 220428################|##########|#|## =500 ##$$a PT.PAPANDAYAN COCOA INDUSTRIES merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri pengelolah biji coklat yang menggunakan mesin. Dalamproses winnowingmerupakan proses pemisahan cocoa dari limbah yang masih melekat and nibs transfer merupakan proses pemisahan biji coklat dari kulit. Dalam proses ini memiliki ruang yang cukup padat dimana layout mesin satu dan mesin lainnya di tempatkan terlalu dekat sehingga area jalan untuk operator sangat minim,tangga yang licin,suara yang bising, dan getaran cukup mengganggu yang dapat menimbulkan adanya potensi bahaya yang tinggi. Penerapan Sistem Manajemen K3(SMK3) pada perusahaan sudah dilakukan namun masih ada beberapa karyawan pabrik yang tidak menjalankan sehingga mengakibatkan kecelakaan sepertiterkena atau tergores bahan tajam, tertabrak pada mesin, sehingga kecelakaan parah yang pernah teradi seperti operator yang mengalami luka parah pada tangan akibat mesin yang tidak memiliki keamanan khusus,dan jatuh dari tangga.Dari beberapa kejadian kecelakaan tersebut, maka peneliti melakukan analisis penerapan K3 untuk mengurangi kecelakaan kerja dengan menggunakan metode HIRARC (Hazard identification Risk Assesment And Risk Control). Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa tingkat risiko bahaya yang ada pada PT. PAPANDAYAN COCOA INDUTRIES yang berada pada tingkatansubstantial(harus ada perbaikan secara teknis), priority 3 (perlu adanya pengawasan secara berkesinambungan), acceptable (intensitas yang menimbulkan risiko diminimalisirkan), dan priority 1 (Perlu pengendalian segera mungkin). =990 ##$$a 67/TA TIA 2019