=LDR 00000nam 2200000 4500 =001 INLIS000000000006337 =990 ##$$a 142/TA TIA 2021 =005 20220609031318 =035 ##$$a 0010-0622000198 =245 1#$$a Usulan Perancangan Meja Alat Pemotong Plat Manual dari Hasil Identifikasi Rula (Rapid Upper Limb Assessmen)pada UD. Naga Mas Parepare : $b Tugas Akhir /$c Jofan Bernadus =100 1#$$a BERNADUS, Jofan =250 ##$$a 2021 =300 ##$$a xi, 67 halaman : $b gambar; tabel ; $c 20,5x29,5 cm =856 ##$$a OPAC (Rak TA TIA 2021) =260 ##$$a Makassar :$b Politeknik ATI Makassar-Teknik Industri Agro,$c 2021 =082 ##$$a (R)2021 TA-TIA 818 =084 ##$$a (R)2021 TA-TIA 818 BER u =650 #4$$a Tugas Akhir TIA 2021 =520 ##$$a UD. Naga Mas sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi komponen-komponen untuk mesin penggiling padi seperti APC, Pembersih Gabah, Elevator/Sendokan, Body pemecah kulit, Blower tiup dan hisap, Ayakan menir, serta Conveyor. Permasalahan yang terjadi dari aktivitas tersebut para pekerja sering merasakan keluhan pada bagian tubuh seperti punggung, leher, dan lengan. Hal ini disebabkan oleh pekerja tidak dalam posisi yang ergonomis saat menahan dan mengangkat beban 11,5 kg hingga 18 kg dalam waktu 5 menit, sehingga memiliki risiko besar yang menyebabkan cedera pada persendian akibat melakukan kegiatan menahan beban berat yang berulangulang. Maka dari itu untuk mengurangi keluhan musculoskeletal disorders perlu dilakukan penelitian, diantaranya dengan menggunakan metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko cedera pada postur kerja pada proses pemotongan besi plat dengan menggunakan metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment) dan untuk membuat usulan rancangan meja alat pemotong alat besi plat untuk mengefisienkan proses pemotongan plat. Dimana responden yang saya digunakan 4 pekerja yang didasari dengan metode non probality sampling. Berdasarkan dari hasil penelitian diketahui postur kerja yang tidak ergonomis, terlihat pada kegiatan membungkuk yang berlebihan dan juga menahan beban serta mengangkat besi plat, diketahui bahwa dua pekerja dengan action level 4 yang artinya kondisi tersebut berbahaya maka pemeriksaan dan perubahan diperlukan dengan segera atau saat ini juga. Sedangkan satu pekerja lagi dengan action level 2 yang artinya diperlukan pemeriksaan lanjutan dan juga diperlukan perubahan-perubahan sikap postur kerja.