02476 2200241 4500001002100000005001500021035002000036245018700056100002900243250000900272300007000281856004500351260007000396082002300466084002900489650002500518008003900543520154800582700002502130700002002155600004002175990001902215INLIS00000000000092320260508025039 a0010-12210001461 aAnalisis Kegagalan Pengolahan Biji Kakao Menggunakan FMEA pada PT. Perkebunan Nusantara XII Banyuwangi :bTugas Akhir /cMuh. Fachri Umar Setia N; Huzairin Patunrangi; Muchsin Haruna1 aUMAR SETIA N, Muh Fachri a2019 axi, 57 halaman :bTabel, gambar ;c20x29 cmeBiblografi; Biografi aOPAC (Ruang Referensi - Rak TA TIA 2019) aMakassar :bPoliteknik ATI Makassar - Teknik Industri Agro,c2019 a(R)2019 TA-TIA 818 a(R)2019 TA-TIA 818 UMA a 4aTugas Akhir TIA 2019260508 | | |  aPT Perkebunan Nusantara XII (persero) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang agribisnis yang memiliki banyak komoditas hasil perkebunan salah satunya buah kakao yang diolah di Pabrik Kendenglembuu Banyuwangi baik secara primer maupun sekunder. Pengolahan primer kakao meliputi proses biji kakao basah menjadi biji kakao kering (raw material) yang telah dikenal kualitasnya hingga diluar negeri namun tak menutup kemungkinan masih adanya moda dan kegagalan disetiap proses yang menyebabkan banyaknya jenis dan jumlah kecacatan pada biji kakao yang dapat merugikan perusahaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis kegagalan yang sering terjadi pada proses pengolahan biji kakao, penyebab terjadinya kegagalan proses tersebut, upaya penurunan defect dan usulan perbaikannya. Dari hasil penelitian menggunakan metode FTA diketahui terdapat enam proses dengan kecacatan yang melebihi toleransi dan penyebab kecacatan masing-masing proses. Hasil dari tabel FMEA menunjukkan dari ke-enam proses tersebut, yang memiliki nilai RPN (Risk Priority Number) tertinggi terdapat pada proses pengeringan dengan mode kegagalan biji pecah dengan nilai RPN sebesar 504, disusul proses pengemasan dan penyimpanan dengan nilai 360, proses penerimaan dengan nilai 280, proses fermentasi dengan nilai 160, proses penjemuran biji berjamur 96 dan RPN terkecil pada proses dengan nilai 72. Dari hasil kedua metode tersebut kemudian dianalisis upaya penurunan defect dan usulan perbaikannya agar kegagalan dalam proses tidak terjadi lagi.3 aPATUNRANGI, Huzairin3 aHARUNA, Muchsin 4aMuh. Fachri Umar Setia N (16TIA190) a71/TA TIA 2019